Minggu, 25 September 2022

Best Practice Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Media BaPel (Bank Apel) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dan Pemahaman Peserta Didik Mengenai Pembagian Satu Angka Kelas IV SD Negeri Karangasem I Surakarta

 

BEST PRACTICES

 

 




 



 

 

Disusun Oleh: 

Munawaroh Tri Handayani, S.Pd.

KELAS 004 PGSD

            NO. UKG 201503478852

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

September 2022



LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SD Negeri Karangasem I Surakarta

Lingkup Pendidikan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang rendah melalui penerapan model pembelajaran dan meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai pembagian melalui penerapan model

pembelajaran Problem Based Learning Kelas IV SD Negeri Karangasem I Surakarta.

Penulis

Munawaroh Tri Handayani, S.Pd.

Tanggal

23 September 2022

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

 Peserta didik Kelas IV SD Negeri Karangasem I Surakarta, kesulitan dalam menyelesaikan soal pembagian.  Kondisi yang menjadi latar belakang masalah adalah pembelajaran konvensional dari guru serta kurangnya media pembelajaran yang digunakan oleh guru, peserta didik belum menguasai perkalian dan pembagian, kurangnya pemahaman peserta didik tentang konsep, prosedur, serta proses perhitungan. Hasil belajar peserta didik lebih dari 50% kurang dari KKM. Selain itu penggunaan TPACK, media dan  penerapan model pembelajaran inovatif dalam proses pembelajaran masih kurang.

 Peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini adalah sebagai peneliti yaitu meneliti tentang permasalahan yang terjadi   selama   proses   belajar   mengajar   di   kelas   dan menyelesaikan masalah-masalah khusus pembelajaran yang dihadapi.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Setelah dilakukan identifikasi masalah dengan refleksi diri, maka beberapa tantangan yang dihadapi adalah:

1.       Masih ada peserta didik yang kurang aktif dalam kegiatan diskusi karena peserta didik yang dominan lebih pintar yang banyak menyelesaikan diskusi kelompok tersebut.

2.       Alokasi waktu yang kurang, sehingga ada beberapa siswa yang belum selesai mengerjakan soal evaluasi.

3.       Anggapan peserta didik belajar matematika itu sulit sehingga membuat peserta didik lesu dalam menerima pelajaran.

Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah peserta didik, guru, teman sejawat dan kepala sekolah. Tantangan itu yang menyebabkan seorang guru harus melewatinya dengan berbagai cara seperti menerapkan media yang sesuai dengan gaya belajar peserta didik serta model pembelajaran yang mendukung.

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut  diantaranya yaitu:

1.      Masih ada peserta didik yang kurang aktif dalam kegiatan diskusi karena peserta didik yang dominan lebih pintar yang banyak menyelesaikan diskusi kelompok tersebut.

Saya lebih intens lagi dalam membimbing peserta didik yang belum memahami tugas yang akan dilakukan, agar peserta didik yang masih pasif dalam kegiatan diskusi dapat berperan aktif di kelompoknya.

2.      Alokasi waktu yang kurang, sehingga ada beberapa siswa yang belum selesai mengerjakan soal evaluasi.

Manajemen waktu yang harus disesuaikan lagi. Latihan mengerjakan soal lebih diperbanyak lagi dalam bentuk permainan, misal dengan kartu domino.

3.      Berkaitan dengan anggapan peserta didik belajar matematika itu sulit.

Pada kegiatan pendahuluan pembelajaran saya memberikan motivasi dan apersepsi yang bisa membuat peserta didik lebih bersemangat dalam belajar matematika. Menggunakan media peraga BaPel (Bank Apel) dan benda konkrit berupa permen atau batu kerikil dapat mempermudah belajar pembagian bagi peserta didik.

Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah peserta didik, guru, teman sejawat dan kepala sekolah. Sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini adalah guru, jaringan internet, PPT, media pembelajaran (Bank Apel), benda konkrit berupa batu kerikil atau permen, video (pembelajaran matematika), LKPD, sound system, proyektor, layar, dll.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut?

 

       Dampak dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dan penggunaan media BaPel (Bank Apel) serta benda konkrit dapat membuat pemahaman peserta didik lebih baik dan lebih termotivasi terhadap materi pembagian bilangan 1 angka pada kelas IV SD Negeri Karangasem I Surakarta. Peserta didik bersemangat dan tidak cepat bosan dalam pembelajaran, karena pada saat pembelajaran peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok serta perkelompok menjawab soal yang diberikan oleh guru. Peserta didik juga berantusias dalam memperagakan media pembelajaran. Hasil yang didapatkan selama proses pembelajaran sangat efektif karena pemilihan model dan media pembelajaran  sudah sesuai dengan materi pembelajaran.

       Dalam proses pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan langkah-langkah tersebut respon dari lingkungan sekitar yaitu teman sejawat dan kepala sekolah memberikan respon positif. Faktor yang menunjukkan bahwa model pembelajaran yang telah dilakukan berhasil adalah dengan pemahaman peserta didik dalam belajar dan hasil belajar yang di atas KKM dengan data yaitu dari jumlah keseluruhan peserta didik kelas IV SD Negeri Karangasem I Surakarta sebanyak 28 anak, 25 peserta didik sudah tuntas dan memperoleh nilai di atas KKM dengan persentase ketuntasan 89,2 %. Sedangkan yang nilainya tidak mencapai KKM ada 3 peserta didik dengan persentase 10,7 %. Oleh karena itu, dengan Model Problem Based learning yang dipadukan dengan media BaPel (Bank Apel) yang menarik serta benda konkrit dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pembagian 1 angka.